jump to navigation

Akibat UN, Belajar Jadi Kering November 8, 2007

Posted by lenijuwita in education.
trackback

Guru dan Murid Utamakan Hasil Akhir, Abaikan Proses
Jakarta, Kompas – Penambahan mata pelajaran dalam ujian nasional dari
tiga menjadi enam mata pelajaran di tingkat sekolah menengah atas
dikhawatirkan membuat proses belajar bertambah kering. Protes murid
terhadap penambahan mata pelajaran tersebut menggambarkan keresahan
siswa.
Sebelumnya diwartakan, pemerintah berencana menambah tiga mata pelajaran
lagi yang akan diujikan secara nasional di tingkat sekolah menengah
atas. Dengan demikian, untuk jurusan IPS, mata pelajaran yang diuji
secara nasional ialah Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika,
Geografi, Ekonomi, dan Sosiologi. Adapun untuk jurusan IPA ialah
Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Kimia, Fisika, dan
Biologi.
Ketua Umum Federasi Guru Independen Indonesia Suparman, Minggu (4/11),
mengatakan, dengan ujian nasional (UN) sebanyak enam pelajaran itu
menyebabkan proses belajar di dalam kelas bertambah kering. Hal tersebut
karena sekolah, guru, dan murid mengedepankan hasil akhir sebagai hal
terpenting daripada proses.
Ketika UN diperuntukkan bagi tiga mata pelajaran saja, para guru dan
murid sudah disibukkan dengan persiapan diri menghadapi ujian nasional.
Anak dilatih untuk menyiasati soal. Mereka di-drilling menjawab ratusan
soal. Ada yang sudah memulai sejak awal masuk ke kelas III.
Belajar-mengajar di dalam kelas juga terfokus pada persiapan tersebut,
lantaran guru-guru ingin memperkuat pelajaran yang di-UN-kan. Kondisi
tersebut juga berdampak pada siswa kelas I dan II. Pembelajaran di
sekolah ujungnya untuk mempersiapkan UN di kelas III. Kondisi itu
tercipta karena UN berperan sangat besar sebagai penentu kelulusan yang
akan memengaruhi masa depan anak. “Dapat dibayangkan betapa keringnya
proses pembelajaran nanti,” ungkap Suparman.
Keadaan tersebut akan membuat potensi anak tidak berkembang, sebagaimana
diinginkan dalam filosofi pendidikan. “Kebijakan tersebut merugikan anak
dan nantinya merugikan bangsa karena kita mendorong terbangunnya bangsa
yang tidak menghargai proses dan potensi diri,” ujarnya.
Persiapan
Secara terpisah, guru Sosiologi dari SMAN 9 Bandung, Iwan Hermawan,
mengungkapkan pandangan senada. “Saya sebagai guru Sosiologi, misalnya,
selama ini tidak terlalu banyak memberikan teori Sosiologi kepada anak.
Yang terpenting ialah penerapannya di dalam hidup bermasyarakat. Percuma
nilai ujian nasional bagus, tetapi anak tidak bisa hidup bermasyarakat.
Saya khawatir anak hanya dapat menjawab soal-soal teori Sosiologi tanpa
bisa mempraktikkannya di tengah masyarakat,” kata Iwan.
Persoalan bangsa ini ialah lemahnya solidaritas di masyarakat, minimnya
rasa setia kawan, dan rasa cinta Tanah Air. “Persoalan itu tidak dapat
terpecahkan lewat UN,” ujarnya.
Persoalan lainnya, menurut Iwan yang aktivis Koalisi Pendidikan Kota
Bandung, penambahan tiga mata pelajaran akan menambah biaya pendidikan
masyarakat. Program pemantapan yang semula dirancang dalam Anggaran
Pendapatan dan Belanja Sekolah atau APBS untuk tiga mata pelajaran
tiba-tiba harus diubah lagi karena pemerintah menambahkan mata pelajaran
ujian. Terdapat kemungkinan masyarakat mesti menambah biaya.
Begitu juga untuk bimbingan-bimbingan belajar di luar sekolah. Mereka
akan menambah materi untuk menjawab kebutuhan siswa yang akan menghadapi
UN. (INE)
ctt: Tambahan Informasi dari KOMPAS

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: