jump to navigation

Mukjizat Abad 20: Doktor Cilik Hafal dan Paham Al Quran September 20, 2007

Posted by lenijuwita in islam.
trackback

Jika Anda seorang muslim, pada usia berapa Anda belajar membaca Al Quran, dan berapa juz yang Anda hafal? Umumnya anak-anak muslim di Indonesia mulai belajar mengaji pada usia sekolah dasar. Dulu, orang tua memanggil ustadz/ustadzah ke rumah untuk mengajar anak-anaknya mengaji. Namun kini, seiring maraknya Taman Pendidikan Al Quran (TPA) dan ditemukannya metode belajar cepat baca Al Quran, orang tua memasukkan anak-anaknya ke TPA untuk belajar membaca dan menulis Al Quran. Hasilnya, anak-anak muslim saat ini sudah banyak yang melek huruf Al Quran dan hafal juz amma (juz 30), yang terdiri dari surah-surah pendek yang mudah dihafal. Tapi tak banyak produk TPA yang menjadi hafiz (penghafal Al Quran), karena TPA tidak didesain untuk mencetak hafiz, dan program menjadi hafiz biasanya ditangani pesantren-pesantren Al Quran.
Buku ini menceritakan kisah seorang anak Iran bernama Sayyid Muhammad Husein Tabataba’i, yang mulai belajar Al Quran pada usia 2 tahun, dan berhasil hafal 30 juz dalam usia 5 tahun! Pada usia sebelia itu dia tidak hanya mampu menghafal seluruh isi Al Quran, tapi juga mampu menerjemahkan arti setiap ayat ke dalam bahasa ibunya (Persia), memahami makna ayat-ayat tersebut, dan bisa menggunakan ayat-ayat itu dalam percakapan sehari-hari.
Bahkan dia mampu mengetahui dengan pasti di halaman berapa letak suatu ayat, dan di baris ke berapa, di kiri atau di sebelah kanan halaman Al Quran. Dia mampu secara berurutan menyebutkan ayat-ayat pertama dari setiap halaman Al Quran, atau menyebutkan ayat-ayat dalam satu halaman secara terbalik, mulai dari ayat terakhir ke ayat pertama (hal 18).
Yang lebih mengagumkan lagi, di usia 7 tahun Husein berhasil meraih gelar doktor honoris causa dari Hijaz College Islamic University, Inggris, pada Februari 1998. Saat itu, Husein menjalani ujian selama 210 menit, dalam dua kali pertemuan. Ujian yang harus dilaluinya meliputi lima bidang. Yakni, menghafal Al Quran dan menerjemahkannya ke dalam bahasa ibu, menerangkan topik ayat Al Quran, menafsirkan dan menerangkan ayat Al Quran dengan menggunakan ayat lainnya, bercakap-cakap dengan menggunakan ayat-ayat Al Quran, dan metode menerangkan makna Al Quran dengan metode isyarat tangan.
Setelah ujian selesai, tim penguji memberitahukan bahwa nilai yang berhasil diraih bocah itu adalah 93. Menurut standar yang ditetapkan Hijaz College, peraih nilai 60-70 akan diberi sertifikat diploma, 70-80 sarjana kehormatan, 80-90 magister kehormatan, dan di atas 90 doktor kehormatan (honoris causa). Pada 19 Februari 1998, bocah Iran tersebut menerima ijazah doktor honoris causa dalam bidang Science of The Retention of The Holy Quran (hal 12-14).
Selama di Inggris, Husein juga diundang dalam berbagai majelis yang diadakan komunitas muslim setempat. Umumnya hadirin ingin menguji kemampuan bocah ajaib tersebut. Uniknya, Husein menjawab semua pertanyaan dengan mengutip ayat Al Quran. Contohnya, dalam satu forum seseorang bertanya, “Bagaimana pendapatmu tentang budaya Barat?” Husein menjawab, “(Mereka) menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya.” (QS 19:59).
Penanya lain bertanya, “Apa yang dilakukan Imam Khomeini terhadap Iran?” Husein menjelaskan, “(Dia) membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.” (QS 7:15). Maksudnya, pada masa pemerintahan monarki, rakyat Iran terbelenggu dan tertindas. Lalu Imam Khomeini memimpin revolusi untuk membebaskan rakyat dari belenggu dan penindasan. (hal 19)
Membaca buku ini jangan hanya terpukau pada kemampuan ajaib seorang Sayyid Muhammad Husein Tabataba’i, yang oleh orang Iran dijuluki sebagai “mukjizat abad 20”. Namun yang terpenting adalah mengetahui proses pendidikan Al Quran yang dia jalani sehingga bisa menguasai isi kitab suci dalam usia yang masih belia.
Untuk kasus Husein, proses pendidikan Al Quran telah dimulai sejak dia masih dalam kandungan. Orang tua Husein menikah ketika mereka masing-masing berusia 17 tahun, dan setelah menikah keduanya bersama-sama berusaha menghafal Al Quran. Tekad itu akhirnya tercapai enam tahun kemudian, ketika mereka berhasil menghafal 30 juz Al Quran. Dalam proses menghafal itu, keduanya membentuk kelompok khusus penghafalan Al Quran. Dalam kelompok itu, secara teratur dan terprogram, orang tua Husein dan rekan-rekannya yang juga berkeinginan untuk menghafal Al Quran, bersama-sama mengulang hafalan, mengevaluasi dan menambah hafalan. Orang tua Husein juga mendirikan kelas-kelas pelajaran Al Quran yang diikuti oleh para pencinta Al Quran.
Seiring dengan kegiatan belajar dan mengajar Al Quran orang tuanya, Husein dan saudara-saudaranya tumbuh besar. Husein sejak kecil selalu diajak ibunya untuk menghadiri kelas-kelas Al Quran. Meskipun di kelas-kelas itu Husein hanya duduk mendengarkan, namun ternyata dia menyerap isi pelajaran. Pada usia 2 tahun 4 bulan, Husein sudah menghafal juz ke-30 (juz amma) secara otodidak, hasil dari rutinitasnya dalam mengikuti aktivitas ibunya yang menjadi penghafal dan pengajar Al Quran, serta aktivitas kakak-kakaknya dalam mengulang-ulang hafalan mereka. Melihat bakat istimewa Husein, ayahnya, Sayyid Muhammad Mahdi Tabataba’i, pun secara serius mengajarkan hafalan Al Quran juz ke-29.
Setelah Husein berhasil menghafal juz ke-29, dia mulai diajari hafalan juz pertama oleh ayahnya. Awalnya, sang ayah menggunakan metode biasa, yakni membacakan ayat-ayat yang harus dihafal, biasanya setengah halaman dalam sehari dan setiap pekan. Namun ayahnya menyadari bahwa metode seperti itu memiliki dua persoalan. Pertama, ketidakmampuan Husein membaca Al Quran membuatnya sangat tergantung kepada ayahnya dalam mengulang-ulang ayat-ayat yang sudah dihafal.
Kedua, metode penghafalan Al Quran secara konvensional ini sangat ‘kering’ dan tidak cocok bagi psikologis anak usia balita. Selain itu, Husein tidak bisa memahami dengan baik makna ayat-ayat yang dihafalnya karena banyak konsep-konsep yang abstrak, yang sulit dipahami anak balita.
Untuk menyelesaikan persoalan pertama, Husein mulai diajari membaca Al Quran , agar dia bisa mengecek sendiri hafalannya. Untuk menyelesaikan persoalan kedua, ayah Husein menciptakan metode sendiri untuk mengajarkan makna ayat-ayat Al Quran, yaitu dengan menggunakan isyarat tangan. Misalnya, kata Allah, tangan menunjuk ke atas, kata yuhibbu (mencintai) , tangan seperti memeluk sesuatu, dan kata sulh (berdamai), dua tangan saling berpegangan.
Ayah Husein biasanya akan menceritakan makna suatu ayat secara keseluruhan dengan bahasa sederhana kepada Husein. Kemudian dia akan mengucapkan ayat itu sambil melakukan gerakan-gerakan tangan yang mengisyaratkan makna ayat.
Metode ini sedemikian berpengaruhnya pada kemajuan Husein dalam menguasai ayat-ayat Al Quran sehingga dengan mudah dia mampu menerjemahkan ayat-ayat itu ke dalam bahasa Persia dan mampu menggunakan ayat-ayat itu dalam percakapan sehari-hari (hal 21-26).
Pembaca juga perlu menyimak pengakuan Sayyid Muhammad Mahdi Tabataba’i, yang menampik pendapat yang mengatakan anaknya istimewa. Menurut Mahdi, Husein memiliki kemampuan di atas rata-rata, dan setiap anak bisa saja dididik untuk memiliki kemampuan seperti Husein. Namun, tentu saja, prakondisi dan kondisinya haruslah lengkap. Misalnya, sejak sebelum masa kehamilan, kedua orang tua Husein sudah mulai menghafal Al Quran. Selama masa kehamilan dan menyusui, ibunda Husein juga teratur membacakan ayat-ayat suci untuk putranya. Dan sejak kecil Husein sudah dibesarkan dalam lingkungan yang cinta Al Quran.
Ayahanda Husein juga berpesan, bila orang tua menginginkan anaknya jadi pencinta Al Quran dan penghafal Al Quran, langkah pertama yang harus dilakukan adalah orang tua terlebih dahulu juga mencintai Al Quran dan rajin membacanya di rumah. Husein sejak matanya bisa menatap dunia telah melihat Al Quran, mendengarkan bacaan Al Quran, dan akhirnya menjadi akrab dengan Al Quran (hal 38-40).
Bila ditinjau dari usia Husein saat ini yang sudah menginjak 16 tahun, buku ini terbilang terlambat diterbitkan. Harusnya diterbitkan 9 tahun lalu, saat Husein berusia 7 tahun dan meraih doktor honoris causa dari Hijaz College Islamic University.
Sekalipun tokoh yang ditulis sudah bukan anak-anak lagi, namun buku ini tetap menarik untuk dibaca, khususnya bagi keluarga muslim yang mendambakan generasi qurani, yang mencintai Al Quran dan hidup sesuai tuntunan Al Quran.
Membaca buku ini bisa menambah motivasi keluarga muslim untuk makin mencintai Al Quran. Bukan hanya orang tua, anak-anak pun perlu membacanya karena teladan Husein bisa memotivasi mereka makin giat belajar Al Quran. Syukur-syukur bisa menjadi hafiz cilik seperti Sayyid Muhammad Husein Tabataba’i.
Bagi para remaja, perlu disimak pesan Husein tentang cara pandang seorang remaja terhadap Al Quran. Menurut dia, pandangan seorang remaja terhadap Al Quran haruslah seperti pandangan terhadap minyak wangi. Ketika kita keluar rumah, tentu kita selalu ingin wangi dan menggunakan minyak wangi. Kita juga harus berusaha mengharumkan jiwa dengan membaca dan menghayati Al Quran. Seorang remaja, kata Husein, harus menyimpan Al Quran di dadanya supaya sedikit demi sedikit perilaku dan pembicaraannya dipengaruhi oleh Al Quran.

Komentar»

1. Ahmad Abdul Haq - September 27, 2007

Setahu saya, mukjizat itu hanya dimiliki oleh nabi atau rasul. Kok ada sih Muslim yang bilang begitu. CMIIW.

2. nurman - September 29, 2007

subhanallah,,, ya Allah engkau ingin menunjukan bahwa manusia sekarng ini hanya percaya dengan pikirannya mereka. dan itu terkadang membuat mereka lupa kepada sang pencipta bahwa tidak ada sehelai rambut pun yang bergerak terkecuali dengan izin Allah.

3. muhamad - Oktober 22, 2007

Sungguh telah nampak kuasa dan kehebatan allah dng ditunjukkannya anak kecil yang briliant. memang ketika allah berkehendak tidak ada yang mustahil dan ingat.. semua yang telah allah ciptakan tiada yang sia-sia.
ada beberapa hal hikmah dibalik ini. Setidaknya kaum muslimin semuanya harus mau belajar dari kenyataan ini:
1. Belajar bagaimna harusnya orang tua mendidik anak.
2. Apa metode yang diterapkan orang tua husein untuk bisa menghafal dan mendalami al quran.
3. Bisakah metode tersebut diterapkan di lembaga pendidikan kita terutama di TPA dan pesantren2 umumnya.
4. Betapa indahnya ketika anak-anak kita, kita didik untuk senang dan mencintai al quran sebagai pedoman hidup manusia.
Adanya husein mengingatkan kita pada sosok imam syafi’i yang telah hafal quran sejak usia 6 tahun, dan hal ini mematahkan paradigma lama bahwa untuk jaman sekarang sulit mendidik anak untuk mengafal spt jaman ulama terdahulu.
Kaum muslimin ini merupakan PR dan bahan kajian kita. bagaimana melahirkan kembali semangat keislaman dan kecintaan kita pada al quran dengan mendidik anak anak kita sebagai generasi penerus perjuangan islam.
ALLAHU AKBAR

4. Vemy - Oktober 30, 2007

Kita seolah diingatkan kembali bahwa Al Qur’anul Karim benar-benar dapat menjawab semua permasalahan. Kisah Husein merupakan external motivation bagi kita orang dewasa yang kerap merasa kesulitan dalam upaya menghafal dan memahami Al-Quran. Husein cilik merupakan perwujudan keberhasilan metode pendidikan oleh orang tua yang ber-azzam mencetak generasi Robbani…

5. m. abu bakar - November 3, 2007

SubhaanaKa Laa Ilaaha Illa Anta AstaghfiruKa Wa Atuubu Ilaika,
Telah napak kuasa Allah atas hamba-Nya di atas muka bumi ini, maka janganlah kmu menjadi org2 yg dhalim kpd dirimu

6. anamta - November 5, 2007

Subhanallah…AllahuAkbar…
Salah satu hikmah yg bisa saya petik adalah, jika kita ingin memiliki anak sholeh yg mencintai alqur’an dan hafidz qur’an, maka hal itu diawali dari kita sebagai orang tuanya. Tiada kata terlambat untuk memulainya.

7. pakpur - Desember 15, 2007

Subhanallah …. Allahu Akbar …
Di dalam kekaguman dan ketakjuban kepada Husein, terbukti satu hal bahwa Allah akan memberikan hidayah-Nya hanya kepada mereka yang bersedia berdoa dan berusaha. Allahu Akbar …

8. sazelan - Maret 28, 2008

assalamualaikum,
didik lah keluarga mu, tentang apa yang dikatakan tipuan dunia

9. AGUS KUSWANTONO - Maret 29, 2008

AL QURAN MEMANG BENAR BENAR MUKJIZAT TERAGUNG TIDAK HANYA BISA DINIKMATI OLEH PARA NABI TAPI MANUSIA BIASA SEPERTI KITA DAN HUSEIN INI, SHALAWAT SERTA SALAM HANYA UNTUK NABI MUHAMMAD SAW. AYO NGAJI DAN BELAJAR AL QURAN

10. danny brahmantiyo - Mei 10, 2008

ALLAHUAKBAR, sungguh besar karunia ALLAH kepada kita. Siapapun yang membaca buku ini dan mengirimkannya kepada seseorang yang belum membaca semoga ALLAH selalu menjaganya.

11. ullul azmi - Desember 15, 2008

kapan za husein bsa k indonesia? gak da salahnya indonesia kdatangan mu’jizat abad 20 itu

12. Goes Roel - Januari 2, 2009

Subhanallah…. semoga kehebatan husein merupakan awal kebangkitan islam kembali setelah masa keemasan Rasulullah Muhammad saw. Dan semoga seluruh bangsa non muslim semakin mikir……………………………… dan nyngir……………………

13. ^.^ - Januari 28, 2009

keren^.*

14. ASEP S SMK Farm JTW - Februari 7, 2009

allahhuakbar.pokoknya hebat banget anak kecil itu,dia hafal quran beserta isinya.CONGRATULATION.

15. gienie - April 25, 2009

buat husein i love so much forefere…

16. gienie AMIK 2006 - April 25, 2009

subhanallah,,,betapa beruntungnya anak itu di beri hidayah ilmu yang luar biasa,,,,,,,,,,,,,,good husain!
ya allah mudah-mudahan anaku kelak seperti husain,wajahnya mirip,pinternya juga AMIN…..

17. Abu Ahmad - Mei 7, 2009

dalam surat as-syam ayat 8 – 11 Allah telah menjelaskan bahwa dalam pembentukan setiap manusia telah ditetapkan dua macam ilham di dalam hati manusia yaitu “Fujuuroha” (jalan kefasikan) dan “Wataqwaaha” (jalan kebenaran) jadi tergantung kita manusia mau mengambil yang mana “The choice is yours” ? kalau ingin mendapatkan kebaikan dari Allah SWT syaratnya manusia harus membersihkan hatinya (“sungguh beruntunglah orang2 yang membersihkannya”) dan jangan mengotorinya (“sungguh merugilah orang2 yang mengotorinya). Jadi peritiwa Husein sudah ditawarkan Sang Maha Pencipta kepada setiap diri manusia sejak Rosulullah Muhammad SAW membawa Risalah Ilahi yang dituangkan dalam kitab suci Al-Qur’an. Allahumma Sholli Wasallim Alaihi.

18. husain - Agustus 30, 2009

ahmad abdul HAQ iri hati ya. gak bisangaji ya ngomomg aja

19. andre gunawan - Desember 21, 2009

“subhanallah luar biasa ya?”

20. andre gunawan - Desember 21, 2009

“SUBHANALAH LUAR BIASA”

21. faiz el sundanie - Desember 3, 2010

karomah kali

22. Rafika - Desember 18, 2010

SUBHANALLAH….
memang tiada satu hal pun yg mustahil bagi Allah…

23. said sudrajad mazlan - Januari 20, 2011

Allahu Akbar, Subhanallah, harusnya sekolah-sekolah di indonesia menerapkan metode belajar al-qur’an seperti orang tua husein, serta memperbanyak isi perpustakaan sekolah dan umum dengan buku-buku inspiratif seperti ini.

24. Bursa Buku Online - Agustus 12, 2011

subhanallah…allahu akbar

25. Arif cahyani Ilyas - Oktober 19, 2011

subhanallah, mahasuci Allah,
terimakasih ya Allah

26. NENENG SUHANA - Desember 25, 2011

Subhanallah luar biasa kecerdasannya,smg anakku kelak akan menjd anak yg mencintai alquran.

27. muhammadikun - Mei 3, 2012

minta link-nya ya, Mbak…

28. Duha Andisyamsu - Juli 4, 2012

Subahanallah…. smg masih ada generasi penerus… artikel yg membantu utnuk mengerjakan tugas sy,syukran katsiran


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: