jump to navigation

Menguak Tabir Politik Sastra September 15, 2006

Posted by lenijuwita in Uncategorized.
trackback

Agus Himawan
TS Eliot dalam Tradition and Individual Talent (The Sacret Wood,
London: Methuen& Co, 1960) berseru, “Kritik yang jujur dan apresiatif
diarahkan bukan kepada penyair, tetapi pada sajaknya. Jika kita
memerhatikan omongan kacau para kritikus di koran serta desir ulangan
populer yang menyusulnya, kita akan mendengar banyak nama penyair.
Sedangkan jika kita mencari kenikmatan karya, kita akan jarang
mendapatkannya.”

Jika kita lebih cermat memerhatikan perkembangan sastra lima tahun
terakhir ini, bisa jadi seruan Eliot tersebut sampai kinilah yang
terasa dalam sastra kita. Perkembangan kritik sastra jadi tak
sebanding dengan banyaknya buku sastra yang diterbitkan.

Selain itu, tulisan esai kritik yang ada di media massa, pun makalah
diskusi, sebagian besar kebanyakan hanya “mencatut” pelbagai ide
besar ke dalam teks sastra sehingga bukannya jouissance kenikmatan
tekstual yang muncul dari sebuah karya yang dibahas, melainkan
sorotan “puja-puji” dalam bingkai “intelektual” yang dapat
dikomoditaskan pihak tertentu (baca: penerbit) sebagai “penglaris”.

Akibatnya, kita sulit mencari kritik independen terlepas dari
intervensi penerbit sebagai bagian dari jaringan sebuah media massa
yang besar. Pun ketokohan pengarang selain banyak nama pengarang dan
karya yang baik cenderung terluputkan karena perhatian umumnya
kritikus dan media massa terpukau pada sosok biografi pengarang,
bukan pada analisis karya yang dapat menunjukkan kenikmatan tekstual.

F Rahardi dalam Kompas, 23 April 2000, mengharapkan setelah
meninggalnya “Paus Sastra” HB Jassin kondisi sastra dapat lebih sehat
dengan tiada lagi figur tunggal yang dimitoskan sehingga membuat
sastrawan tumbuh sendiri secara alami untuk mendapatkan pengakuan.

Sialnya harapannya tak begitu banyak dimanfaatkan pemawas sastra kita
sehingga kritik sastra terkini selain tak bernyali, juga mudah
dimanfaatkan sebagai “senandung pujian” (baca: “blurb” yang
dicantumkan di sampul belakang buku atau esai untuk “kata pengantar”)
dalam industri penerbitan buku. Tudingan lebih gawat krisis kritik
sastra terjadi karena “politik sastra”, satu hal yang umumnya enggan
diakui pemawas sastra kita.

Buku ini ditulis oleh Katrin Bandel, penulis kelahiran Wuppertal,
Jerman, yang meraih gelar doktor dalam sastra Indonesia pada 2004 di
Universitas Hamburg. Kehadiran buku ini tentunya menarik walau dapat
pula menimbulkan sedikit rasa kecewa lantaran otokritik sastra yang
bersih malah dihasilkan peneliti bukan dari Indonesia.

Pertanyaan mengusik, sebegitu gawatkah krisis kritik sastra kita yang
independen sehingga setelah membaca buku ini telah memberi bukti
beberapa pemawas sastra kita terjerembab arus sensasi media massa bak
selebriti intelektual dengan melontarkan pujian berlebihan kepada
beberapa penulis perempuan, tanpa disadari telah menghancurkan
potensi yang menjanjikan?

Hal demikian dapat terbaca dalam Nayla: Potret Perempuan Pengarang
sebagai Selebriti (hal 143) yang dengan kemunculan tiba-tiba karya
Djenar Maesa Ayu sebagai “sastrawati” ternyata tak sebanding dengan
pujiannya. Jika kita menghubungkannya dengan kemunculan pengarang
perempuan lain, maka di mata Katrin selain pujian pada Djenar
berlebihan, karya lain yang menggarap tema seks secara lebih bebas
ternyata baru sampai pada pemaparan ide yang belum tuntas. Dalam
tulisannya Katrin menyiapkan argumentasi meyakinkan dengan merujuk
teori, membongkar kelemahan sehingga pujian yang terbetik di media
massa atau dalam buku Djenar sendiri menjadi rontok.

Geliat sastra mutakhir dengan munculnya sastra internet yang pada
awal kehadirannya dicibir sebagai tren sesaat seperti pernah
disebutkan Hamsad Rangkuti di majalah Gatra, 18 November 2000, juga
disinggung Katrin dalam “Karya Sastra sebagai Taman Bermain”. Di sini
ia menyinggung antara diri pengarang dan alter-ego Dewi “Dee” Lestari
dalam Supernova (2001) sehingga batas antara fiksi dan kenyataan
menjadi bias. Uniknya hal tersebut bukan muncul dari bukunya sendiri,
melainkan dari situs internet penerbit Supernova, yaitu truedee.com.

Esai menarik lainnya adalah Religiusitas dalam Novel Tiga Pengarang
Perempuan Indonesia (hal 67) yang sedikit memberi bukti nyata masih
ada potensi penulis perempuan mampu menulis tema lain bukan hanya
sekadar seks yang terlalu digembar-gemborkan di media massa
sebagai “pembaru”. Kondisi ini cukup berbahaya karena menimbulkan
kesan seolah penulis perempuan, terutama setelah ramainya publikasi
Djenar, hanya mampu menulis soal seks saja, padahal hal tersebut
dibentuk industri kapital penerbitan buku sebagai tren.

Sastra klasik Indonesia juga tak luput dari amatan Katrin. Dalam Nyai
Dasima dan Nyai Ontosoroh (hal 31) ia cukup tajam mengurai sejarah
terjadinya “politik sastra” di masa jayanya penerbit Balai Pustaka
sebagai institusi kolonial ternyata punya andil menggerus “Cerita
Nyai” bahasa Melayu rendah akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20
sebagai bacaan murahan tak layak dikategorikan dalam sastra.

Meskipun buku ini cukup berhasil sebagai otokritik sastra dari sudut
pandang pengamat sastra berkebangsaan bukan Indonesia seperti yang
dilakukan oleh A Teeuw, John H McGlynn, dan Harry Aveling, buku ini
juga menyimpan kelemahan. Sebutlah tulisan Sastra Koran di Indonesia
(hal 45) Katrin tak banyak memberi penjelasan bagaimana kondisi media
sastra di Jerman sebagai perbandingan. Dalam tulisan tersebut Katrin
hanya memberi contoh posisi artikel sastra Jerman yang
dinamakan “Feulliton” lebih netral dibandingkan dengan rubrik sastra
koran Indonesia karena kehadirannya hanya berupa reportase acara
sastra dan resensi buku, bukan sebagai “ajang” melahirkan sastrawan
(juga penulis kritiknya) yang masih dalam kondisi “diletan” dengan
memamerkan istilah asing hanya untuk memperindah tulisannya.

Kelemahan berikut adalah ulasan novel Disgrace karya pemenang Booker
Prize 1999 dan Nobel Sastra 2003, JM Coetzee (hal 119) yang aslinya
adalah resensi buku yang pernah dimuat di Kompas, 23 Oktober 2005.

Dalam tulisan tersebut nyaris Katrin hanya menceritakan Disgrace
tanpa menghubungkannya secara kontekstual dengan perkembangan sastra
Indonesia. Akibatnya pembaca jadi bertanya-tanya apa korelasinya
dengan sastra kita, sedangkan maksud penulisan buku ini adalah
menghadirkan kritik sastra kita secara netral tanpa intervensi pihak
mana pun. Sebutlah A Teeuw dalam Khazanah Sastra Indonesia (Balai
Pustaka, 1982) yang juga menyebut karya asing, begitu pula Harry
Aveling dalam Rahasia Membutuhkan Kata (IndonesiaTera, 2003) yang
jelas terlihat korelasinya dengan karya sastra Indonesia.

Kelemahan lain, buku ini belum karya utuh seperti buku A Teeuw dan
Harry Aveling lantaran hanya mengumpulkan tulisan Katrin yang pernah
dimuat di berbagai media massa sehingga data dan argumennya terasa
kurang lengkap (Sastra Koran di Indonesia juga ulasan karya JM
Coetzee). Rata-rata buku kritik yang berasal dari kumpulan tulisan
menyimpan kelemahan sejenis, misalnya Sastra dan Massa-nya Jakob
Soemardjo (ITB, 1995) atau Solilokui-nya Budi Drama (Gramedia, 1983)
yang sebenarnya dapat lebih komprehensif jika ditulis ulang, bukan
sekadar mengumpulkan kembali tulisannya. *

Komentar»

1. nadnuts aka WideImagination - September 18, 2006

Seperti Eliot, Roland Barthes, dalam esainya “juga memisahkan karya dengan penulisnya.

“To give a text an Author is to impose a limit on that text.”

Tapi, saya sendiri masih sulit memisahkan karya dengan penulisnya, terutama yang saya kenal. Terkadang ketika membaca suatu karya, saya membayangkan kira-kira apa yang ada di benak penulis ketika menuliskan karya tersebut.

BTW, thanks buat linknya🙂

Saya juga sudah link blog ini di blog saya.

2. nadnuts aka WideImagination - September 18, 2006

Seperti Eliot, Roland Barthes, dalam esainya “The Death of the Author,” juga memisahkan karya dengan penulisnya.

*koreksi komen di atas*

3. lodzi - November 30, 2006

salute..omong sastra mmg tak pernah habis dan akan selalu indah karena kitalah yg terlibat langsung dalam peran keindahan sastra untuk menjadi tetap dan bergerak semakin mendekati titik yang — lagi2 selalu — akan lebih indah. ia takkan habis.

maen ke blogku juga ya http://www.infectionary.blogspot.com kita bisa tukeran link

thanks

4. ahmad afandi - Januari 3, 2008

kembalikan semua pada bagaimana sebenarnya esensi dari kritik sastra, jika dalam sebuah kritik hanya berputat pada kelebihan dari karya sastra tertentu maka kritik sastra yang demikian sudah tidak obyektif dan ilmiah lagi, karena seperti yang telah di paparkan di atas bahwa politik sudah mengakar di dalam kesusastraan kita. sudah tidak bisa di katakan sebuah kritik sastra jika hanya dari segi kelebihannya yng menjdi sorotan, padahal dalam kajian kritik sastra keduanya harus menjadi bahan acuan dalam membuat sebuah karya kritik sastra, adalah kelebihan dan kekurangan yang wajib menjadi inti kritikan itu. ok sahabat..! aq dari lumajang, jurusan PBSI, d salah satu kampus di lumajang. salam kenal para sastrawan semua. dan tangan terkepal maju ke muka..!!!!!!! fandi..

5. counterstr - Februari 2, 2008
6. ellaela-ki - Mei 11, 2009
7. Writlex - Juli 30, 2011

правильное питание для полненьких девушексоветы от эдита пьеха по похудениюдиета для сжиганиядиета на нарзане и горьком шоколадепохудение диеты как эффективно похудетьвсе о кремлёвской диетепохудеть без диет и тренировокдиета беременных в первый триместрдиеты для похудения просто и легко1триместр беременности диетаочищение кишечника с помощью диетыдиета доктора сайкваменю диеты после ротовирусной инфекциикак можно похудеть после беременностименю на 3 недели по кремлевской диетепохудение для мужчин в домашних условияхкак похудеть с 56 размера до 44аиф. здоровье 4 2009г диетабесплатно простые рецепты кремлевской диетыдиета гайтаны


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: